Rabu, Desember 16, 2009

Ikatan Arsitek Indonesia


Rapat Pengurus IAI Nasional tutup tahun (2009)


Sejak awal tahun 2009 saya kebetulan membantu kepengurusan di Ikatan Arsitek Indonesia (Nasional) yang diketuai oleh Bapak Endy Subiyono. Bidang Keprofesian dipimpin oleh Bapak Didi Haryadi dan saya membantu beliau di bidang ini. Lumayan juga karena mau tidak mau harus meluangkan waktu untuk pekerjaan sosial ini demi kemajuan profesi Arsitek di Indonesia.

Selain memperjuangkan pranata yang lebih baik bagi kegiatan keprofesian Arsitek dengan rencana melakukan penyempurnaan AD/ART, juga memfasilitasi para Arsitek dalam proses mendadatkan pendidikan berkelanjutan dan sertifikat keahliannya.

Kadang karena kesibukan bapak Ketua, saya harus mewakili beliau menghadiri undangan dari Instansi Pemerintah terutama dari jajaran Departemen PU serta Lembaga Serifikasi Nasional (LPJKN). Wahn ini kegiatan baru yang membuat saya gamang saat pertama kali melakukannya. Maklum saya dulu banyak bekerja dibelakang meja dan bertemu orang hanya untuk kepentingan usaha sendiri, kalau saat ini harus mewakili keberadaan Orang banyak.

Minggu, Desember 13, 2009

Halal Bihalal + Reuni SD

Sahabat masa kecil memang gak bosen kalau ketemu pas usia udah mulai mendekati 50 tahun. Jadi selalu saja kami cari moment yang bisa membuat kami berkumpul, halal bihalal lah yang dijadikan alasan untuk kumpul setelah bulan ramadhan.

Saat ini 9 okt'09 dengan teman-teman masa SD, karena pada pertemuan sebelumnya tidak terlalu banyak yang hadir, maka hari ini direncanakan lebih serius tapi tetap santai karena gak pake acara2 segala, tetapi cuma ngobrol sana sini dan tertawa tertiwi.

Pas hari yang ditentukan saya ada tugas ke Bandung untuk kontrol kerjaan, tetapi bisa langsung kembali ke Jakarta, sehingga langsung mampir di Resto sekitar Ampera untuk ketemu temen-temen. Seru juga karena muncul wajah baru yang jarang ketemu yaitu pak dokter Nunuk, dokter gigi Emmy, Ato & Ochie. Yang lain relatif sering kumpul seperti Wiwik, Kitoek, Hendro, Dudit, Elvie & Nita.

Setelah makan kenyang dan waktu sudah menunjukan pukul 10 malam kami harus keluar karena Resto mau tutup. Merasa kurang lama ngobrolnya kami cari lokasi lain yang bisa buat nongkrong aja yang buka sampai malam. Kira-kira 1 km dari Resto pertama menuju kearah kemang kami dapat nongkrong yang lumayan bisa buka sampai agak malam yaitu di Tea Addict.

Karena banyak tertawa dan khawatir mengganggu tamu yang lain, kami sengaja memilih tempat / ruang yang bisa ditutup oleh pintu geser. Semakin malam semakin seru karena cerita-cerita pak dokter yang sering memeriksa pasien wanita, sehingga yang lain penasaran pengen tahu macam-macam yang bisa dijadikan bahan bercanda.

Wah malam udah larut juga, jam 12 sudah....pulang, kapan-kapan kumpul lagi cerita yang lain lagi.


Sabtu, Desember 12, 2009

Ulang Tahun IAI

Pada tanggal 17 September 2009 Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) cabang Jakarta mengadakan Syukuran di Auditorium Bank Indonesia dalam rangka perayaan 50 Tahun IAI. Dalam suasana bulan Ramadhan acara ini berlangsung santai dan dihadiri oleh beberapa Founding Father IAI. Acara dimulai sore hari jam sekitar jam 16.00, sehingga saya menuju lokasi harus naik Busway untuk menghindari kemacetan dan 3 in 1. Dipilihnya Gedung BI sebagai tempat syukuran ini sangatlah menarik karena Gedung ini adalah Bangunan Heritage di Jakarta sebagai salah satu Karya Arsitek Legendaris Indonesia yaitu Bapak Silaban.

Pada acara ini menampilkan Para Ex Ketua IAI yang menceritakan proses perkembangan IAI dari mulai berdirinya pada tahun 1959. Awal yang sangat berat memang karena pada 10 tahun pertama anggota IAI hanya bisa mencapai 50 orang kemudian berkembang perlahan-lahan yangsaat ini sudah mencapai 12000 orang yang tersebar diseluruh indonesia bahkan diluar negeri.

Setelah buka puasa bersama dengan makanan berat dan ringan yang diiringi oleh live music instrumental piano & saxophone, acara ditutup dengan foto bersama seluruh peserta yang hadir.

Senin, September 07, 2009

Akibat Facebook

Tampaknya umur semakin tua membuat kita sadar bahwa selama ini kesibukan telah membius kita dan lupa dengan kehidupan bermasyarakat. Memang akhirnya Facebook dilihat dari sisi positifnya mengingatkan kita bahwa hidup ini tidak sendiri. Bertemu dengan teman lama menjadi asyik lagi serasa usia masih seperti dulu.



Saya punya teman sewaktu kecil yang sampai saat ini memang masih saling berhubungan, tetapi intensitas pertemuannya mungkin sangat terbatas karena masalah pekerjaan masing-masing atau jarak tempat tinggal masing-masing. Facebook memudahkan kita untuk tetap berkomunikasi yang akhirnya dapat dengan mudah mengatur pertemuan-pertemuan untuk kangen-kangen aja sambil mengingat masa kecil yang masih culun kata orang jakarta....



Pernah suatu saat pun kami kumpul dengan kelompok lain (adik kelas) karena kami berada dilingkungan yang sama, SD atau SMP yang sama dan lebih dikuatkan lagi masing-masing kami kakak beradik saling berteman. Yang tua bermain dekat dengan kakaknya, yang muda bermain dengan adiknya....lucu juga. Biasanya orang tua kami juga saling kenal, maklum dilingkungan yang tidak terlalu besar dengan jumlah penduduk yang masih terbatas pada waktu itu. Kalau saat ini mungkin bisa berbeda, walau pada lingkungan yang sama tetapi jumlah penduduknya sudah sangat banyak bahkan semakin individualis.




Dimana sih sebenarnya masa kecil kami? Masih di Jakarta juga, cuma memang dipinggiran pada jamannya, tapi sekarang sudah menjadi pusat perkantoran baru diwilayah selatan. Tepatnya di Pasar Minggu, SD disana dulu tidak banyak yang cukup dikenal SDN Pejaten 3, SD Bea & Cukai...SMP XLI. Walau dipinggiran tetapi kualitas pelajarannya bagus lho! Lihat aja prestasi2 kami saat ini....ha..ha...GR boleh kan.

Kalau mengingat masa itu sangat prihatin tapi senang rasanya. Listrik PLN sempat belum ada, jadi harus menggunakan Genset ditiap rumah, TV hitam putih tentunya dan orang kampung disekitar perumahan kami pada malam hari akan datang kerumah ikut nonton TV mengintip dari jendela teras rumah kami. Sekolah kami juga belum seluruhnya permanen, ada yang pakai lantai semen dan dinding kayu. Banyak teman-teman yang tidak bisa membeli sepatu, sehingga hanya menggunakan sandal bahkan tanpa alas kaki.....sayang foto-foto dijaman itu sudah banyak yang raib.

Jumat, Juli 17, 2009

Ulang Tahun !!!

Tak terasa ternyata sisa hidup ini tinggal sebentar...anakku ke dua sudah berusia 17 tahun.
30 Maret 2009 tepatnya sweet seventeen putriku Devita yang cantik ini berulang tahun. Maunya sih dibuatkan acara yang agak besar dengan mengundang teman-teman sekolahnya, tapi ternyata dia cukup memahami kondisi kami saat ini sehingga diputuskan untuk merayakan dengan teman2 dekat saja. Ke Karaoke & makan bersama di D'Cost, lumayan gak terlalu memakan biaya banyak...Bahkan tepat pada hari ulang tahunnya, teman-teman smp Devita datang ke rumah membuat surprise dengan berkumpul dikamar tidurnya menunggu dia datang pulang dari sekolah...

Sepuluh hari kemudian Dita istriku Ulang Tahun yang ke 45 .... Dibulan april keluarga besarku banyak yang juga b erulang tahun termasuk Ibuku. Seperti kebiasaan kami setiap bulan april keluarga besar kami berkumpul untuk merayakan ulang tahun bersama-sama terutama untuk Ibuku. Karena tahun ini jatuh pada 17 tahu Devita, maka kami adakan acara diluar rumah. Musik adalah hobby keluarga, apalagi anak tertua kami adalah pemusik pemain percusion kuliah di Institut Musik Indonesia semester 4 dan Devita telah berlatih menyanyi di EMS (Elfa's Music School) sejak smp. Agar bisa bermain Band anakku tertua Dewo memilih tempat di The Rock Cafe dan diadakan siang hari agar seluruh keluarga dapat hadir.



- Foto Keluarga - Hartaku

Dhewo bermain Drum



Bulan Maret terdapat 2 hari besar yang kami rayakan, salah satunya adalah ulang tahun pernikahan yang tahun ini telah mencapai yang ke 22 tahun. Angka yang unik memang. Kami rayakan dengan sederhana aja. Salah satu diantaranya kami ziarah ke makam ke dua almarhum bapak kami di tanah kusi & jeruk purut. Kemudian mengajak ibu-ibu kami yang masih ada untuk makan di restaurant. Menyenangkan orang tua itu yang utama, karena kami sudah terlalu sibuk dengan urusan keluarga sendiri. Rasanya sulit sekali membalas kebaikan mereka berdua...


- Ziarah ke Makam Bapak - Inilah Orang Tua kami yang masih tersisa

Rabu, Maret 04, 2009

Kantor Baru

Sudah 1 (satu) bulan ngantor di Jl. Gaharu I no 3 tapi belum sempat ndandanin kantor biar agak ngarsitek gitu...Tapi ini adalah kantor yang paling enak selama ini, maklum walaupun sewa tapi ini kantor pertamaku yang nyewa pakai uang hasil kerja sendiri. Suasananya lebih cerah aja, lega, parkir luas dan mudah2an ngerejekeni kata orang jawa.

Banyak hal-hal yang diluar dugaan waktu mau dapat kantor ini, memang kalau Tuhan sudah punya mau apa saja bisa terjadi tanpa direncanakan. Sewaktu sewa kantor di panglima polim sudah hampir habis, saya belum sempat cari tempat gantinya. Kalau kepepet paling nyewa diruang kosong dirumah orang tua saya di pasar minggu, sementara kerjaan lagi padat karena harus ngejar akhir tahun anggaran proyek pemerintah...Ada tempat yang pernah kami survey atas info dari OB Casmudi, hampir deal tapi kok rasanya kurang ok, terus kita coba cari tempat lain.

Setelah libut tahun baru kami cari waktu kosong bersama dengan teman sekantor jalan ke daerah sedikit keselatan dari panglima polim, niatnya supaya lebih murah sewanya. Ada rekan saya yang pernah lihat rumah didaerah cipete mau disewa dan sedang direnovasi, sehingga informasi itu yang kita pakai sebagai tujuan survay. Akhirnya kami nyoba mampir, walaupun agak kurang yakin karena tanahnya besar, begitu pula rumahnya, posisi di jalan yang relatif ramai, wah mahal nih perkiraan kami. Kondisi rumah memang kurang baik karena rumah tua tahun 70an posisi dibawah jalan raya & tampaknya drainage juga kurang bagus. Secara kebetulan sekali pemilik rumah ini sedang mampir untuk mengontrol tukangnya yang sedang bekerja, sehingga bisa ditanyakan langsung mengenai biaya sewa rumah ini. Penawaranan dari si Empunya rumah diluar dugaan kami, karena harga sewanya tidak semahal rumah yang perah kami survay sebelumnya, padahal kondisinya jauh lebih baik. Cuma ada yang menjadi kekhawatiran saya adalah sewa harus untuk 3 tahun...uang dari mana ya? Dari awal untuk mengringankan sewa saya bergabung dengan teman2 dari perusahaan lain untuk sewa kantor bersama, karena kebetulan jenis kegiatan hampir sama dan suatu saat bisa bersinergie.

Setelah kami katakan minat kepada pemilik rumah, kami jalan pulang ke kantor panglima polim untuk menenangkan diri sambil berfikir bagaimana caranya bisa mendapatkan rumah itu...Setelah itu banyak sekali info yang menguatkan kami untuk menyewa rumah itu. Malam harinya Pemilik rumah menyanyakan tindak lanjut kami, rekan kami yang lain semangat sekali mendengar tempat ini karena dekat dengan sekolah anaknya di Al Ikhlas, ada yang dekat dengan rumahnya, dekat dari kantor sebelumnya, kalau saya lebih mudah pulang tapi jauh bila harus jemput sekolah anak saya di blok M. Akhirnya keesokan harinya kami berunding untuk mengatur strategi keuangan dan agar peluang ini tidak diambil oleh orang lain kami harus juga cepat memutuskan.

Posisi kuat kami adalah bahwa rumah itu besar dengan kualitas sepereti itu sehingga mungkin sulit bagi pemilik mendapatkan penyewa, jadi kami beranikan diri untuk negosiasi. Akhirnya negosiasi berjalan lancar dengan sedikit penurunan nilai kontrak, tetapi kalau untuk 3 tahun tetap berat buat kami. Akhirnya kami coba cari akal agar kedua belah pihak tidak dirugikan, sehingga sampai pada kesepakatan yang disetujui kedua belah pihak yaitu pembayaran 50% dimuka & sisanya cicilan perbulan dalam 10 bulan kedepan. Setelah putus Down Payment kami berikan 5 juta rupiah sehingga kami sudah bisa menyusun jadwalpindah kantor yang sebelumnya tidak terpikirkan.

Sambil kami mengepak dokumen2 lama serta membongkar furniture2 knock down, dilakukan pula pengecatan ulang rumah sewa tersebut agar tampak lebih nyaman. Ada beberapa sekat ruang semi permanen yang harus kami bongkar, memperbaiki dinding2 yang lembab & bocor. Tepat hari libur Nyepi, Senin 26 Januari kami niatkan syukuran kecil-kecilan dengan mengundang santri dari Masjid terdekat Al Ikhlas.

Baru kami merapikan kantor, tamu yang datamh sudah banyak. Apalagi setelah kami resmi berkantor disini rasanya tamu tidak pernah berhenti datang, bahkan panggilan dari beberapa klien lama kami datang untuk memberikan pekerjaan baru. Tampaknya kantor ini membawa BERKAH, terima kasih ya Allah, sejak awal ini merupakan kehendak Nya, saya rasakan itu...

Selasa, Maret 03, 2009

Makan-Makan

Akhir-akhir ini saya sering pergi kearah pondok cabe & lebak bulus, kebetulan ada pekerjaan disana. Beberapa kali selesai dari rapat atau peninjauan lapangan perut terasa minta diisi, maklum kadang belum sarapan atau pas makan siang. Jalan kembali kekantor untuk lebih cepatnya saya memotong melalui jalan lebak bulus 2, tidak melalui jl TB simatupang. Pada jalan ini selalu ingat warung makanan Ketupat Tahu Magelang yang rasanya khas. Walaupun tempatnya kecil tapi didepan warung terdapat tanah kosong yang dapat ditempati untuk parkir mobil.

Pilihannya hanya ada dua, biasa atau istimewa (pakai telor dadar) dan pedas atai tidak selalu juga ditanyakan. Walaupun isinya standar cuma ketupat, tahu,telur & sedikit sayuran kecambah & kol tetapi ada sedikit gorengan seperti cakwe serta bumbu kacang dengan kuah yang segar membuar rasanya luar biasa. Tentunya ditambah kriuknya kerupuk kampung membuat sempurna rasanya.

Pilihan minuman standar seperti warung pada umumnya, jeruk atau minuman botol.
Sering juga saya mampir makan ketupat ini di cabang bintaro dekat rumah, biasanya untuk sarapan pada hari libur.

Pokoknya nyam-nyam lah...

Minggu, Februari 22, 2009

Tangkuban Perahu

Bila saja saya tidak cantumkan lokasi foto ini, banyak orang akan menyangka lokasi foto ini bukan di Indonesia....Ini adalah foto piknik kami sekeluarga ke Bandung pada liburan tahun ajaran baru pertengahan tahun 2008

Dengan kesibukan yang ada akhirnya disempatkan pula kami adakan perjalanan keluar kota yang mudah dicapai dari Jakarta. Waktunya kami ambil pada akhir masa liburan ajaran baru dengan harapan tidak terjadi kemacetan jalan & kepadatan tempat-tempat tujuan wisata. Bandung pada akhirnya kami putusa
kan menjadi tujuan perjalanan. Dengan mengajak salah satu keponakan, kami lakukan perjalan melalui TOL Cipularang menuju Bandung dengan lancar. Pada hari pertama kami hanya jalan-jalan didalam kota bandung saja sambil mencari tempat makan yang unik & distro tentunya.

Tujuan pada hari kedua adalah Tngkuban Perahu. Saya saja walaupun kuliah sekitar 4,5tahun di bandung, belum pernah kedaerah wisata itu. Setelah sarapan pagi kami langsung menuju Lembang melalui jalan Setiabudi. Memang jalan-jalan masih banyak wisatawan sehingga masih agak macet disekitar geger kalong. Setelah melalui daerah itu perjalanan mulai lancar dan samapilah dipintu masuk jalan menuju puncak gunung / kawah Tangkuban Perahu. Jalan pertama relatif datar semakin lama semakin curam dan jalan rusak berbatuan. Setelah sampai di daerah sekitar puncak, didapat jalan raya dilingkungan ini yang sangat bagus (hotmix) dam kami mencari tempat parkir yang relatif nyaman.

Udara sangat cerah, sehingga seluruh permukaan kawah terlihat jelas, bahkan jatuhnya sinar matahari pada pukul 10 an ini tampak sangat cantik. Dengan kondisi sinar matahari yang indah inilah saya berusaha mencari sudut tertentu yang cukup cantik untuk dijadikan latar belakang foto-foto kami. Hasilnya anda bisa lihat sendiri dari foto-foto terlampir. Padahal kami hanya menggunakan camera digital kecil.







Setelah berjalan setengah lingkaran dari kawah ini, kami akhirnya kembali lagi kearah tempat parkir sambil mampir kedaerah ruang penerangan. Didekat kantor inilah kami akhirnya menyempatkan membeli Ketan Bakar dari seorang ibu-ibu tua yang masih bersemangat bekerja demi menghidupi keluarganya. Dalam kesejukan udara yang mulai terasa semakin dingin. Ketan bakar ini menjadikan makanan yang paling enak dengan dicampur srundeng (kelapa goreng) yang gurih, rasa lapar agak sedikit berkurang.

Ternyata cuaca mulai kurang bersahabat, kabut mulai turun sehingga permukaan kawah tidak terlihat...Kasihan sekali wisatawan-wisatawan yang baru sampai dilokasi pada siang hari. Wah..benar-benar sangat beruntung hari ini...

Kamis, Januari 15, 2009

Proses kematangan sebagai seorang ARSITEK

Setelah lulus dari ITB jurusan Arsitektur di wisuda bulan Maret 1984, saya sebenarnya tidak ingin langsung bekerja disebuah perusahaan konsultan arsitek. Ada keinginan untuk istirahat kira-kira 3 bulan diisi dengan membantu kegiatan rekan-rekan senior dengan status freelance. Hal ini sempat saya lakukan dengan membantu rekan saya yang lebih senior dalam sebuah kompetisi perancangan tingkat dunia, kemudian membantu dosen pembimbing saya dalam presentasi akhir membuat image 3 dimensi Masjid Agung di Palembang. Sambil menunggu waktu kebebasan selama 3 bulan, saya mulai membuat surat lamaran kerja diperusahaan konsultan nasional. Kriteria dalam membuat aplikasi waktu itu sangat sederhana ;

  • Saya tidak ingin bekerja di tempat perusahaan yang didirikan oleh dosen-dosen senior seperti Atelier 6, Encona, Team 4, dll.
  • Lokasi di Jakarta selatan, karena waktu itu saya tinggal dengan orang tua di Ragunan Pasar minggu.
  • Lamaran kerja hanya kepada perusahaan konsultan arsitek, karena mimpi saya dari sejak dulu ingin menjadi Arsitek.

Mungkin ada lebih dari 10 lamaran saya buat , beberapa perusahaan sempat mewawancarai saya tetapi tidak ada tindak lanjut. Saya sempat dinasehati untuk merubah bentuk surat lamaran kerja ini dengan lebih menampilkan kelebihan yang saya punya saat ini karena pengalaman kerja masih belum punya. Nasehat itu saya ikuti dengan memberikan informasi mengenai saya adalah salah satu dari 4 mahasiswa arsitektur ITB angkatan 79 yang lulus tercepat dalam waktu 4,5 tahun. Memang sebelum itu walau program perkuliahan di ITB dimungkinkan lulus dalam waktu 4,5 tahun, tetapi hampir tidak mungkin dipraktekan di Jurusan Arsitektur karena padatnya waktu perkuliahan denganadanya pelajaran studio yang memakan waktu & persyaratan 2 kali praktek kerja di perusahaan konsultan.

Allah memang punya rencana lain untuk mengabulkan keinginan saya. Secara tidak langsung saya diberitahu rekan seangkatan tugas akhir saya yang sudah lebih dulu bekerja yaitu mas ICON untuk melamar ke PT. Parama Consultant, karena disana sedang membutuhkan seorang arsitek katanya. Setelahsaya kirimkan lamaran ke jalan Asia Afrika no 10 ( saat ini plaza senayan), tidak beberapa lama saya di telepon oleh ibu Titut adalah executive secretary di PT. Parama Consultant untuk diminta datang wawancara . Agak gamang juga saat itu karena saya tidak pernah tahu tentang perusahaan ini dan pada waktu saya menyerahkan lamaran ada kesan perusahaa ini milik orang asing (maklum bahasa inggris saya pas-pasan.

Hari wawancara tiba, saya diwawancarai langsung oleh direktur Parama Consultant yaitu Bapak Suwarmo Soepeno tanpa melalui test-test lain. Saya diminta mengisi form sebelum wawancara, gaji yang saya ajukan 300 ribu rupiah per bulan, tetapi pada saat wawancara ditawar menjadi 250 ribu rupiah dengan masa percobaan 3 bulan. Status sebagai arsitek dianggap staf sehingga tidak mendapatkan uang lembur. Saya diberi waktu 1 hari untuk memutuskan apakah bersedia atau tidak. Keesokan harinya saya ditelepon oleh ibu Titut dan saya putuskan ‘YA’ dengan pertimbangan sudah masuk criteria yang saya harapkan, memang gaji bukan menjadi prioritas saya pada saat itu, pengalaman kerja lebih diutamakan. Dosen wali saya pernah berpesan sewaktu saya ragu untuk memutuskan mengambil tugas akhir bahwa, segera saja ambil kesempatan tugas akhir karena proses belajar itu diluar (pada saat bekerja).

Saya mulai bekerja pada akhir Juni tahun 1984 dan ditugaskan membantu beberapa aristek yang sedang melakukan pekerjaan perencanaan beberapa gedung. Pada masa inilah mulai banyak belajar bekerja sebagai Arsitek. Pada dasarnya saya sengan bekerja jadi hari libur sabtu kadang saya datang untuk melanjutkan pekerjaan yang belum tuntas hari sebelumnya. Untuk maslah disain saya banyak belajar dari Mas Bambang Budiarto, arsitek jebolan Universitas Indonesia ini mempunyai kreatifitas yang tinggi dan skill menggambar yang luar biasa. Karena load beliau sangat padat maka saya diminta untuk mendampingi beliau untuk menghadle pekerjaan yang tidak sempat tertangani. Bimbingan dari Bapak Suwarmo Soepeno (pak Warmo/SS) sebagai direktur & Mas Bambang Budiarto (BB) sebagai Arsitek Senior sangat berarti buat saya. Bahkan setelah beberapa lama saya mulai dipercaya langsung menghandle proyek dari mulai awal perencanaan, bertemu/rapat dengan klien sampai melakukan pengawasan berkala pada saat konstuksi.

Setelah 3 bulan masa percobaan saya berakhir, saya dipanggil kembali oleh Pak Warmo. Karena load pekerjaan Parama saat itu memang sedang tinggi, saya diangkat mejadi karyawan tetap dengan gaji dinaikkan 50% menjadi 375 ribu rupiah. Wah ini sangat luar biasa, ternyata apa yang saya lakukan selama ini dihargai dengan baik oleh perusahaan. Kerja saya semakin semangat, bahkan saya sempat senang kalau menadapat pekerjaan lebih dari satu, sehingga saya bisa belajar memanage waktu menyelesaikan pekerjaan sesuai jadwal. Sejak saat itu pak Warmo atau mas BB sering mengajak saya mendampingi beliau bertemu dengan klien-klien pada saat rapat proyek. Dari situ tentunya saya diminta menindaklanjuti hasil keputusan rapat tadi. Suatu saat mas BB diminta untuk menangani proyek Tunjungan Plaza di Surabaya, sehingga beliau harus tinggal cukup lama disana untukmenangani perubahan-perubahan disain langsung dilapangan selama konstruksi. Dengan kondisi seperti ini di Jakarta menjadi kerepotan karena beberapa arsitek yang di Jakarta kualitas perancangannya tidak sekaliber mas BB. Ternyata mas BB menunjuk saya untuk menghandle pekerjaan perencanaan di Jakarta untuk mensupport pak Warmo menindaklanjuti permintaan-prmintaan para klien.

Yang cukup membuat saya takut yaitu pada saat saya diminta berangkat ke Hongkong sendiri mewakili Parama mendampingi konsultan amerika HOK dalam melanjutkan disain Plaza Indonesia & Grand Hyatt disana. Tinggal disana kira-kira 2 bulan, waktu kesana saya berangkat dari Bandara Halim Perdanakusuma tetapi pada saat kembali saya turun di Bandara Sukarno Hatta. Setelah pulang dari Hongkong , saya mulai dipercaya untuk menghandle sendiri pekerjaan2 perencanan lain atas nama Parama. Proses ini berjalan terus sehingga proses kematangan saya sebagai Arsitek terbentuk.


Saya memang tidak sepandai pak Warmo dan sekreatif mas BB, tetapi saya berusaha mengisi kekosongan yang tidak sempat dilakukan oleh mereka berdua. Kepercayaan yang tinggi ini membuat saya tidak pernah berpikir untuk bekerja ditempat lain & melakukan pekerjaan perencanaan diluar kantor (kaki lima-istilah teman2). Dedikasi yang tinggi ini yang membuat posisi saya di Parama semakin baik dan meningkat. Pada tahun 1989 saya diangkat menjadi Architectural Design Manager kemudian pada tahun 1992 saya diangkat sebagai Deputy Director of Design Division membantu mas BB sebagai Director. Pada tahun 1997 saat krisis moneter mulai menggerogoti Indonesia saya diangkat menjadi Corporate Secretary dan setahun berikutnya merangkap posisi Finance Division Head. Pada masa sulit inilah akhirnya saya banyak belajar bagaimana menghandle sebuah company dengan benar. Hasil yang saya lakukan masa ini kurang memuaskan karena akhirnya Perusahaan harus melakukan PHK massal dan saya mulai mencari pekerjaan diluar kantor untukmendapatkan income tambahan mengingat Parama belum dapat memberikan pekerjaan & penghasilan yang layak.

Sejak tahun 1998 tekanan ekonomi membuat saya mulai berfikir unutk punya usaha sendiri bahkan kalau bisa punya usaha lebih dari satu sehingga dapat menantisipasi bila terjadi krisis ekonomi di masa datang. Pekerjaan-pekerjaan kecil akhirnya mulai saya dapatkan, sempat pula saya bekerja part time di PT. Arkonin sebagai arsitek. Sekitar tahun 2000an Parama mulai bangkit kembali dan saya diminta membantu membentuk tim kecil membangun kembali Parama. Tetapi selama ini ternyata pekerjaan saya diluar Parama semakin bertambah pula sehingga pada septembar tahun 2002 saya memutuskan untuk mengundurkan diri secara resmi dari Parama.

Terima kasih pak Warmo yang telah memberikan bimbingan selama ini dengan pandangan idealis yang tinggi dan selalu positif dalam menghadapi segala masalah. Saya tidak pernah mendengar keluhan beliau walau pernah masa sulit kami alami bersama. Juga untuk mas Bambang (BB) yang banyak mengajarkan trik-trik disain yang benar dengan efisiensi dari segi waktu perencanaannya, tetapi kalau soal kreatifitas itu maslah bakat yang sulit saya pelajari.

Minggu, Januari 04, 2009

Rumah Stroberi - Lembang, Bandung

Perjalanan menuju lokasi Rumah Stroberi sebenarnya cukup mudah, karena dicapai dari bandung bisa melalui jalan Setiabudi atau Sukajadi. Jalan menuju utara sampai terminal angkot di Ledeng belok ke kiri. Jalan ini relatif kecil menanjak terus tetapi tidak terlalu padat. Kira-kira 1 km dari jl Setiabudi di kiri kanan jalan banyak terdapat penjual tanaman hias yang sangat bagus diantaranya pohon kaktus. Sayangnya saya tidak dapat memperoleh foto suasana unik ini mengingat saya sedang mengemudi kendaraan. Untuk mencapai lokasi ini ternyata cukup jauh bahkan kami melewati beberapa daerah tujuan wisata lainnya seperti Kampung Daun, Water Park, dan lain-lain. Walau jauh kita akan mendapat arahan dari papan petunjuk untuk menuju lokasi. Lokasi berdampingan dengan Restaurant The Peak.



Sampai di lokasi kira-kira pukul 4 sore dan kami sempatkan dulu shalat Ashar. Tempatnya berbukit, kendaraan masuk ke arah kanan dan menuju pelataran parkir yang kira-kira menampung 20 kendaraan. Diseberang jalan sebenarnya juga terdapat lokasi parkir kendaan & perbukitan yang ditanami tanaman buah stroberi. Dari tempat parkir kami menuju kearah Kafe yang melalui sebuah lapangan rumput terbuka yang cukup luas untuk bermain anak-anak.
Kedatangan kami ternyata agak terlambat karena pintu masuk menuju perkebunan Stroberi sudah ditutup tepat pukul 4 sore, sehingga kami hanya dapat melihat dariluar pagar tanaman Stroberi yang ditutupi atap plastik sedang disirami anti hama. Pukul 5 sore Kafe ditutup, jadi kami langsung memesan minuman dan makanan kecil. Agar mudah dan merasakan ke khasan Rumah Stroberi tentunya kami memesan Jus Fresh Stroberi. Luar biasa...., itu yang saya rasakan dari Jus Stroberi yang dibuat oleh Kafe ini. Komposisi Stroberi dan Es nya pas...saya tidak sempat bertanya apakah ada campuran lain di Jus ini. Tampaknya tempat ini sedang melakukan pengembangan dengan terlihat bangunan yang sedang dibangun yang mungkin akan menjadi restaurant.

Pulang dari Rumah Stroberi ternyata kami salah jalan, yang harusnya lurus menuju Terminal Ledeng kami belok ke kiri karena tampaknya suasana jalan yang lebih ramai dan lebar. Jalan ini agak ramai dan turun naik bukit yang cukup terjal, tetapi pemandangan disini lebih indah sehingga kami lanjutkan saja tanpa memikirkan berbalik arah. Kami memperkirakan paling akan sampai ke kota lembang, dan ternyata dugaan kami tidak salah. Setelah bertemu dengan pertigaan bertemulah kami dengan jalan jalur utama menuju Lembang dari arah Bandung. Berbelok kekanan ke arah Bandung jalan menurun dan cukup lancar. Setelah beberapa kilo meter ternyata jalan macet berat, maklum hari libur. Kami pasrah saja karena target kami telah tercapai dan target berikutnya makan malam di SWIS steak restaurant daerah Geger Kalong. Tepat jam 7.30 malam kami sampai tujuan dan langsung mendapat tempat parkir tepat di depan restaurant.

Swis restaurant ini suasananya cukup ramai, tampaknya ini merupakan tujuan Wisata Kuliner bagi orang Bandung dan pendatang. Sayang sekali steak yang terbaik telah habis, sehingga kami pesan yang ada saja. Tidak salah restaurant pilihan ponakan saya, dengan steak seberat 150 ons ternyata cukup untuk ukuran perut orang indonesia. Dagingnya empuk rasanya istimewa dan yang paling membingungkan harga Steak ini tidak terlalu mahal dibandingkan Steak sejenis yang biasa kami temukan di Jakarta.

Perjalanan hari ini kami tutup sampai disini dan kami langsung kembali ke hotel untuk istirahat.

Batik Komar - Jl. Sumbawa Bandung

Pada saat mengisi liburan akhir tahun kami justru mengambil jadwal pada hari setelah tahun baru tepatnya tanggal 2 Januari 2009. Hal ini kami putuskan dengan harapan jalan menuju tujuan tidak terlalu macet, begitu pula pada saat kembalinya. Ternyata hal tersebut terbukti......sudah 2(dua) kali kami mencoba trik ini, berhasil....

Salah satu tujuan kunjungan adalah mengikuti keinginan istri tercinta yaitu Butique Batik Komar di jalan Sumbawa no 22. Untuk istri saya yang menarik dari Batik Komar adalah kerudung untuk Jilbab terbuat dari Batik & Tenun. Untuk batik-batik lain untuk kemeja Pria maupun Wanita memang juga punya kekhasan tersendiri disana. Banyak orang tahu Batik Komar adalah Batik Cirebon yang dikembangkan disainnya sehingga punya karakter tersendiri.



Kembali ke Kerudung Batik, disini selain mempunyai banyak corak yang menarik, juga mempunyai ciri yang sangat unik pada juntaian benang yang dililit sedemikian rupa sehingga akan terlihat cantik saat digunakan oleh pemakainya.



Untuk menuju lokasi Batik Komar dapat melalu jalan Sunda atau jalan Jawa, mengingat jalan Sumbawa adalah jalan satu arah dari selatan ke utara. Lingkungan disini tidak terlalu ramai sehingga cukup nyaman bagi pengunjung yang datang.